Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tahun Gajah: Awal Kehidupan Rasulullah SAW yang Menggetarkan Jazirah Arab

Pasukan Bergajah mau menyerang ka'bah



Jauh sebelum cahaya Islam menyinari Jazirah Arab, dunia Arab telah diguncang sebuah peristiwa besar yang kelak dikenal sebagai Tahun Gajah. Tahun itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan menjadi tonggak sejarah penting yang mengiringi kelahiran manusia pilihan, Nabi Muhammad ﷺ. Sebuah kejadian yang tidak hanya tercatat dalam sejarah bangsa Arab, tetapi juga diabadikan secara langsung dalam Al-Qur’an.

Tahun Gajah bukan sekadar kisah penyerangan, tetapi simbol kekuasaan Allah atas makhluk-Nya. Di kala itu, kaum Quraisy hidup dalam kondisi jahiliah, penuh dengan penyembahan berhala dan pertikaian suku. Namun, di tengah gelapnya zaman itulah Allah mempersiapkan kelahiran cahaya bagi semesta alam.

Dan kisah itu bermula dari ambisi seorang penguasa Yaman bernama Abrahah.

1. Ambisi Abrahah dan Rencana Menghancurkan Ka’bah

Abrahah adalah seorang gubernur di Yaman yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Habasyah. Ia seorang Nasrani yang fanatik terhadap agamanya. Dalam upaya menarik perhatian bangsa Arab agar berhaji ke Yaman dan bukan ke Mekah, ia membangun sebuah gereja raksasa di Sana’a.

Gereja itu belum pernah dilihat oleh bangsa Arab sebelumnya. Tingginya menjulang, dihiasi beragam pernak-pernik indah, dan dipromosikan sebagai pusat ibadah baru menggantikan Ka’bah.

Namun apa yang diharapkan Abrahah tidak terjadi. Bangsa Arab tetap memuliakan Ka’bah sebagai pusat ibadah dan kehormatan leluhur. Bahkan, salah seorang Arab dikabarkan pernah menodai gereja tersebut sebagai bentuk protes.

Abrahah murka.

Ia bersumpah akan menghancurkan Ka’bah hingga tidak ada lagi yang berhaji ke Mekah. Maka disiapkannya pasukan besar untuk melaksanakan ambisinya.

Pasukan itu tidak biasa.

Abrahah membawa yang belum pernah dilihat bangsawan Arab sebelumnya: pasukan gajah perang.

2. Pasukan Gajah Menuju Mekah

Gajah menjadi simbol kekuatan dan keperkasaan. Dengan tubuh besar dan langkah menghancurkan, Abrahah yakin Ka’bah akan runtuh di hadapan mereka.

Rombongan besar itu bergerak dari Yaman menuju Mekah, menghancurkan apa pun yang mereka lalui. Kota demi kota memilih menghindar, karena tidak ada satu pun yang mampu melawan pasukan raksasa itu.

Seorang tokoh Arab bernama Dzu Nafar mencoba menghalangi, namun ia kalah dan ditawan. Begitu pula pemimpin lain di wilayah Thaif, mereka memilih menyerah demi keselamatan diri.

Ketika pasukan Abrahah mulai mendekati Mekah, penduduk kota suci itu dilanda ketakutan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Pasukan Abrahah juga merampas hewan ternak milik warga, termasuk unta yang dimiliki oleh tokoh Quraisy yang disegani: Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad ﷺ.

3. Pertemuan Abdul Muthalib dan Abrahah

Abdul Muthalib dikenal sebagai pemimpin Quraisy yang karismatik. Ia menemui Abrahah bukan untuk bernegosiasi tentang Ka’bah, tetapi untuk meminta kembali 200 ekor untanya yang dirampas.

Abrahah heran.

Ia mengira Abdul Muthalib akan merundingkan penyelamatan Ka’bah. Namun justru yang diminta adalah unta.

Dengan nada meremehkan, Abrahah berkata,

"Aku kira engkau akan membicarakan rumah ibadah yang hendak aku hancurkan."

Abdul Muthalib menjawab dengan penuh keteguhan:

“Aku adalah pemilik unta-unta ini, sedangkan Ka’bah memiliki Pemiliknya sendiri yang akan menjaganya.”

Ucapan itu bukan sekadar kalimat, tetapi pernyataan tauhid yang terpatri kuat dalam jiwanya.

4. Doa di Hadapan Ka’bah

Abdul Muthalib kembali ke Mekah bersama kaumnya. Ia tidak mengerahkan pasukan, tidak mengatur strategi perang.
Sebaliknya, ia menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah.
Di hadapan Ka’bah, ia berdoa dengan penuh kekhusyukan:

“Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu menjaga miliknya sendiri. Maka jagalah rumah-Mu.”

Setelah itu, penduduk Mekah keluar dari kota, mengungsi ke pegunungan di sekitarnya. Kota Mekah ditinggalkan dalam keheningan yang mencekam.

5. Ketika Gajah Menolak Melangkah

Keesokan paginya, Abrahah bersiap menyerang. Gajah terbesar yang menjadi andalan pasukan dikerahkan menuju Ka’bah. Namun ketika diarahkan ke arah Mekah, gajah itu mendadak duduk.
Dipukul, Diseret, Dipancing. Namun tetap saja, gajah itu tidak mau bergerak ke arah Ka’bah.
Anehnya, ketika diarahkan ke Yaman atau Syam, ia bangkit dan berjalan.
Namun setiap kali diarahkan ke Mekah… ia rebah kembali. Saat itulah, langit berubah.

6. Datangnya Pasukan dari Langit

Tiba-tiba, muncul burung-burung kecil dari arah laut. Mereka datang berbondong-bondong. Masing-masing membawa batu kecil di paruh dan kakinya, Batu itu bukan batu biasa.

Ketika batu-batu itu dijatuhkan ke arah pasukan Abrahah, mereka hancur seketika. Tubuh-tubuh pasukan terkelupas. Mereka laksana daun-daun yang dimakan ulat.

Tidak ada perlawanan, Tidak ada pertempuran, Hanya kehancuran total.

Abrahah sendiri terkena batu tersebut. Tubuhnya membusuk perlahan. Ia tidak mati seketika, tetapi merasakan kehinaan hingga akhirnya tewas dalam perjalanan pulang.

Allahlah yang membela rumah-Nya.

7. Allah Mengabadikan Peristiwa Ini dalam Al-Qur’an

Peristiwa ini diabadikan dalam Surah Al-Fil:
  1. Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?
  2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?
  3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang berbondong-bondong,
  4. yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar,
  5. sehingga Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
(QS. Al-Fil: 1–5)

Ini menjadi satu-satunya peristiwa sejarah yang diceritakan langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an tanpa perlu tafsir rumit.

8. Tahun Kelahiran Rasulullah ﷺ

Tahun kehancuran pasukan Abrahah inilah yang kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah. Dan pada tahun itulah… Seorang bayi lahir dari rahim seorang perempuan mulia bernama Aminah binti Wahab.

Bayi itu bernama: "Muhammad"  Ia lahir dalam keadaan yatim. Namun kelak, menjadi pemimpin seluruh umat manusia. Kelahirannya menjadi simbol bahwa dunia telah disiapkan untuk perubahan besar.

9. Hikmah dari Peristiwa Tahun Gajah

1. Allah mampu menghancurkan musuh tanpa tentara manusia
2. Kesombongan selalu berakhir kehinaan
3. Keimanan Abdul Muthalib menjadi pelajaran tauhid
4. Ka’bah dijaga langsung oleh Allah
5. Lahirnya Rasulullah ﷺ didahului tanda kebesaran Allah

Posting Komentar untuk "Tahun Gajah: Awal Kehidupan Rasulullah SAW yang Menggetarkan Jazirah Arab"