Bahaya Makan dari Agama: Ketika Ilmu Dijual dan Iman Digadaikan
Ketika Agama Tidak Lagi Dicari Karena Kebenaran, Tapi Karena Keuntungan. Pernahkah kita merenung, mengapa hari ini ilmu agama terasa ringan di lisan, tapi berat diamalkan? Mengapa ceramah mudah viral, tetapi nasihat jarang mengubah perilaku?
Agama hari ini begitu dekat dengan dunia digital. Ia tampil di layar, muncul di notifikasi, dan hadir dalam bentuk konten. Namun sering kali yang ditanyakan bukan lagi: apakah ini benar? melainkan: apakah ini ramai?
Di sinilah bahaya itu mulai tumbuh, saat agama tidak lagi menjadi jalan menuju Allah, melainkan alat untuk meraih dunia. Fenomena ini oleh para ulama disebut sebagai makan dari agama, yaitu menjadikan ibadah, ilmu, dan kedudukan keagamaan sebagai cara mencari kepentingan duniawi.
Islam memang tidak melarang manusia menjadi kaya. Yang dilarang adalah menjadikan agama sebagai alat transaksi.
Allah telah mengingatkan dengan tegas dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
“Janganlah kamu menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.”
(QS. Al-Baqarah: 41)
Pesan ini bukan sekadar larangan jual beli fisik ayat, tetapi larangan menjual kebenaran demi keuntungan.
Allah juga berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ“
Maka Celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu berkata: ini dari Allah, untuk mendapatkan keuntungan dunia yang sedikit.”
(QS. Al-Baqarah: 79)
Ayat ini menjadi peringatan keras tentang manipulasi agama.
Dunia Boleh Dikejar, Tapi Jangan Lewat Pintu Agama
Dalam riwayat para ulama disebutkan bahwa ketika Allah mengajarkan kepada Nabi Adam berbagai keterampilan hidup, Allah memerintahkan agar manusia mencari dunia dengan usaha dan pekerjaan, bukan dengan menjadikan agama sebagai sarana memperoleh kekayaan.
Pesannya jelas:
Berusahalah secara profesional,
namun jangan menggadaikan iman.
Allah berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
Artinya:
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami beri kepadanya amalnya sepenuhnya pada (kehidupan) itu, dan mereka di dalamnya tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)
Namun Allah melanjutkannya di ayat berikutnya:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَضَرَبْنَا لِمَا أَذَنَوْا مَثَلًا
Artinya:
“Mereka itulah orang-orang yang pada akhirat tidak mempunyai apa-apa selain api neraka; dan telah Kami berikan contoh bagi apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Hud: 16)
Dunia bisa didapat, tapi akhirat bisa hilang.
Hadis yang Menggugah Jiwa: Amal Besar yang Berakhir Neraka
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis sahih:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِيُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، فَقَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
وَرَجُلٌ سَهَّلَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَهَا لِيُقَالَ هُوَ جَوَّادٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
(رواه مسلم)
Terjemah
وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، فَقَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
وَرَجُلٌ سَهَّلَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَهَا لِيُقَالَ هُوَ جَوَّادٌ فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.
(رواه مسلم)
Terjemah
“Sesungguhnya orang pertama yang akan disidangkan pada hari Kiamat adalah seorang yang mati syahid. Ia akan dihadapkan (di hadapan Allah) lalu Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-Nya dan ia mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan terhadap nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Kamu berdusta — sesungguhnya kamu berperang supaya dikatakan: “Ia pemberani.”’ Dan memang hal itu telah dikatakan. Kemudian diperintahkan untuk menyeretnya hingga diangkat ke wajahnya lalu dilemparkan ke neraka.
Kemudian didatangkan seorang yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Allah memperlihatkan nikmat-Nya kepada orang itu, lalu Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku belajar ilmu, mengajarkannya dan membacakan Al-Qur’an untuk-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu berdusta — sesungguhnya kamu belajar ilmu supaya dikatakan: “Dia alim”, dan kamu membaca Al-Qur’an supaya dikatakan: “Dia qāri’ (pembaca)”.’ Dan memang hal itu telah dikatakan atau didapatkan di dunia. Kemudian diperintahkan untuk menyeretnya hingga diangkat ke wajahnya lalu dilemparkan ke neraka.
Kemudian didatangkan seorang yang diberi keluasaan harta. Allah memperlihatkan nikmat-Nya kepadanya lalu bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Tidak ada jalan untuk berinfak yang engkau sukai kecuali aku berinfak di jalan itu untuk-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu berdusta — sesungguhnya kamu berinfak supaya dikatakan: “Ia dermawan”.’ Dan hal itu memang telah dikatakan. Kemudian diperintahkan untuk menyeretnya hingga diangkat ke wajahnya lalu dilemparkan ke neraka.”
(HR. Muslim)
Kisah Nyata Ulama: Mereka Bisa Kaya, Tapi Memilih Selamat
Di masa Abbasiyah, Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله dipenjara, disiksa, dicambuk. Semua itu karena beliau tidak mau mengucapkan satu kalimat yang bertentangan dengan keyakinannya tentang Al-Qur’an. Ia bisa saja selamat jika memilih dunia. Tapi beliau memilih luka sebagai harga menjaga agama.
Beliau berkata:
بَيْنِي وَبَيْنَ النَّارِ كَلِمَةٌ
Artinya: “Antara aku dan neraka hanya satu kalimat.”
Maksudnya: Jika beliau mau mengikuti penguasa dengan mengatakan Al-Qur'an makhluk, ia akan bebas. Tapi satu kalimat itu akan mengantarkannya ke neraka. Maka ia memilih disiksa daripada mengucapkan kebatilan
Begitu pula Imam Abu Hanifah رحمه الله. Ia ditawari jabatan tinggi. Dunia ada di tangannya. Tapi ia menolak, karena tidak ingin agama diatur oleh kepentingan dunia.
Ia berkata:
“Jika aku jujur, kalian marah. Jika aku dusta, Allah murka. Maka aku pilih murka manusia.”
Akhirnya beliau dipenjara hingga wafat.
Kalam Ulama: Nasihat Mereka Tetap Hidup
Imam al-Ghazali رحمه الله berkata:
هلاكُ العلمِ أن يُطلب للدنيا
“Hancurnya ilmu ketika ia dicari demi dunia.”
Ibnu Taimiyah رحمه الله:
ما أفسد الدين إلا الملوك وأحبار السوء وعبّاد الدنيا
“Agama rusak oleh penguasa zalim, ulama buruk, dan penyembah dunia.”
Hasan al-Basri رحمه الله:
إنما أنتَ أيام، كلما ذهبَ يومٌ ذهبَ بعضُك
“Engkau hanyalah hari-hari; setiap hari yang pergi, sebagian dirimu ikut mati.”
Kita Mau Kaya atau Mau Pulang?
Mencari dunia itu boleh.
Menjaga iman itu wajib.
Bekerja dengan agama itu mulia,
tapi menjual agama itu hina.
Agama bukan tangga popularitas.
Bukan alat propaganda.
Bukan komoditas.
Agama adalah jalan pulang.
Posting Komentar untuk "Bahaya Makan dari Agama: Ketika Ilmu Dijual dan Iman Digadaikan"