Diasuh di Bani Sa’ad: Fase Pengasuhan Nabi Muhammad SAW Menurut Sirah Sahih
Diasuh di Bani Sa’ad: Fase Pengasuhan Nabi Muhammad ﷺ Menurut Sirah Sahih
Fase pengasuhan Nabi Muhammad ﷺ di pedalaman Bani Sa’ad merupakan salah satu bagian penting dalam sirah nabawiyah. Para sejarawan Muslim sejak generasi awal telah menuliskan fase ini dalam kitab-kitab sirah, di antaranya oleh Ibnu Ishaq (melalui riwayat Ibnu Hisyam), Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, dan para ulama setelahnya. Dalam fase ini, Nabi Muhammad ﷺ disusui dan diasuh oleh Halimah binti Abu Dzuaib As-Sa’diyah dari kabilah Bani Sa’ad, sebuah kabilah Arab yang tinggal di wilayah pedalaman.
Sirah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tinggal di wilayah ini sejak usia bayi hingga beberapa tahun kemudian, sebelum akhirnya dikembalikan kepada ibunya di Mekah. Selama periode ini, para sejarawan mencatat terjadinya berbagai keberkahan pada keluarga Halimah serta peristiwa penting, yakni pembelahan dada, yang diriwayatkan secara sahih dalam hadis.
Tulisan ini menguraikan peristiwa tersebut secara runtut berdasarkan sumber klasik, tanpa menambahkan detail yang tidak ditemukan dalam riwayat.
Tradisi Menyusukan Anak oleh Perempuan Pedalaman
Bangsa Quraisy, sebagaimana kabilah Arab lainnya, memiliki kebiasaan menyerahkan anak-anak mereka kepada perempuan pedalaman untuk disusui dan diasuh dalam beberapa tahun pertama kehidupan. Tujuan kebiasaan ini disebutkan oleh para sejarawan antara lain:
Ketika Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan di Mekah, keluarganya pun mengikuti tradisi tersebut sebagaimana keluarga Quraisy lainnya.
Halimah As-Sa’diyah dan Kondisi Keluarganya
Halimah binti Abu Dzuaib datang ke Mekah bersama perempuan-perempuan lain dari Bani Sa’ad. Sirah Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa pada tahun tersebut, wilayah Bani Sa’ad mengalami kekeringan. Hal ini menyebabkan kesulitan ekonomi yang berkepanjangan.
Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber utama berikut:
Sirah Ibnu Hisyam (riwayat Ibnu Ishaq)
Al-Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir
Ar-Rahiq Al-Makhtum – Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
Sirah Nabawiyah – Dr. Ali Ash-Shallabi
Shahih Muslim (hadis pembelahan dada)
Shahih Bukhari (riwayat terkait masa kecil Nabi)
Fase pengasuhan Nabi Muhammad ﷺ di pedalaman Bani Sa’ad merupakan salah satu bagian penting dalam sirah nabawiyah. Para sejarawan Muslim sejak generasi awal telah menuliskan fase ini dalam kitab-kitab sirah, di antaranya oleh Ibnu Ishaq (melalui riwayat Ibnu Hisyam), Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, dan para ulama setelahnya. Dalam fase ini, Nabi Muhammad ﷺ disusui dan diasuh oleh Halimah binti Abu Dzuaib As-Sa’diyah dari kabilah Bani Sa’ad, sebuah kabilah Arab yang tinggal di wilayah pedalaman.
Sirah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tinggal di wilayah ini sejak usia bayi hingga beberapa tahun kemudian, sebelum akhirnya dikembalikan kepada ibunya di Mekah. Selama periode ini, para sejarawan mencatat terjadinya berbagai keberkahan pada keluarga Halimah serta peristiwa penting, yakni pembelahan dada, yang diriwayatkan secara sahih dalam hadis.
Tulisan ini menguraikan peristiwa tersebut secara runtut berdasarkan sumber klasik, tanpa menambahkan detail yang tidak ditemukan dalam riwayat.
| (Gambar hanya ilsutrasi) |
Tradisi Menyusukan Anak oleh Perempuan Pedalaman
Bangsa Quraisy, sebagaimana kabilah Arab lainnya, memiliki kebiasaan menyerahkan anak-anak mereka kepada perempuan pedalaman untuk disusui dan diasuh dalam beberapa tahun pertama kehidupan. Tujuan kebiasaan ini disebutkan oleh para sejarawan antara lain:
- Agar anak tumbuh di lingkungan udara yang lebih sehat.
- Agar memperoleh bahasa Arab yang lebih murni dan fasih.
- Agar terbiasa dengan kehidupan sederhana dan keras, yang diyakini membentuk keberanian dan kemandirian.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan di Mekah, keluarganya pun mengikuti tradisi tersebut sebagaimana keluarga Quraisy lainnya.
Halimah As-Sa’diyah dan Kondisi Keluarganya
Halimah binti Abu Dzuaib datang ke Mekah bersama perempuan-perempuan lain dari Bani Sa’ad. Sirah Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa pada tahun tersebut, wilayah Bani Sa’ad mengalami kekeringan. Hal ini menyebabkan kesulitan ekonomi yang berkepanjangan.
Riwayat menyebutkan bahwa kondisi keluarga Halimah saat itu adalah:
- Ternak mengalami kekurangan susu.
- Ketersediaan makanan terbatas.
- Anak-anak keluarga tersebut sering mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan susu.
Dalam rombongan perempuan pedalaman itu, hampir semua bayi Quraisy telah diambil, kecuali Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu alasan yang disebutkan oleh para sejarawan mengapa beliau belum diambil adalah karena beliau lahir dalam keadaan yatim. Dalam budaya saat itu, anak yatim cenderung dianggap tidak menjanjikan imbalan materi sebagaimana anak-anak dari keluarga yang ayahnya masih hidup.
Karena tidak mendapatkan anak asuhan lain, Halimah akhirnya menerima Nabi Muhammad ﷺ untuk diasuh.
Keberkahan yang Dicatat dalam Kitab Sirah
Setelah Nabi Muhammad ﷺ berada dalam pengasuhan Halimah, sumber-sumber sirah mencatat adanya perubahan signifikan dalam kondisi keluarga tersebut.
Ibnu Ishaq menyebutkan dalam riwayatnya bahwa:
Para ulama sirah menafsirkan perubahan tersebut sebagai bentuk keberkahan yang menyertai Nabi Muhammad ﷺ sejak masa kecilnya. Catatan ini tidak disampaikan sebagai kisah simbolik, tetapi sebagai laporan sejarah yang diulang oleh banyak sejarawan.
Lama Waktu Tinggal di Bani Sa’ad
Dalam kitab-kitab sirah terdapat perbedaan kecil mengenai lamanya Nabi Muhammad ﷺ tinggal di Bani Sa’ad. Namun mayoritas sejarawan menyebutkan beliau tinggal antara empat hingga lima tahun.
Selama masa itu, Nabi Muhammad ﷺ diasuh secara penuh oleh Halimah dan keluarganya. Beliau hidup sebagaimana anak-anak Bani Sa’ad lainnya, di tengah kehidupan pedalaman yang sederhana.
Sirah tidak mencatat peristiwa luar biasa setiap hari, namun menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tumbuh dengan kondisi fisik yang baik dan perkembangan yang sehat.
Karena tidak mendapatkan anak asuhan lain, Halimah akhirnya menerima Nabi Muhammad ﷺ untuk diasuh.
Keberkahan yang Dicatat dalam Kitab Sirah
Setelah Nabi Muhammad ﷺ berada dalam pengasuhan Halimah, sumber-sumber sirah mencatat adanya perubahan signifikan dalam kondisi keluarga tersebut.
Ibnu Ishaq menyebutkan dalam riwayatnya bahwa:
- Unta keluarga Halimah kembali mengeluarkan susu.
- Kambing-kambing yang sebelumnya kurus mulai tampak lebih sehat.
- Kebutuhan keluarga terhadap susu dan makanan menjadi lebih tercukupi.
Para ulama sirah menafsirkan perubahan tersebut sebagai bentuk keberkahan yang menyertai Nabi Muhammad ﷺ sejak masa kecilnya. Catatan ini tidak disampaikan sebagai kisah simbolik, tetapi sebagai laporan sejarah yang diulang oleh banyak sejarawan.
Lama Waktu Tinggal di Bani Sa’ad
Dalam kitab-kitab sirah terdapat perbedaan kecil mengenai lamanya Nabi Muhammad ﷺ tinggal di Bani Sa’ad. Namun mayoritas sejarawan menyebutkan beliau tinggal antara empat hingga lima tahun.
Selama masa itu, Nabi Muhammad ﷺ diasuh secara penuh oleh Halimah dan keluarganya. Beliau hidup sebagaimana anak-anak Bani Sa’ad lainnya, di tengah kehidupan pedalaman yang sederhana.
Sirah tidak mencatat peristiwa luar biasa setiap hari, namun menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tumbuh dengan kondisi fisik yang baik dan perkembangan yang sehat.
Peristiwa Pembelahan Dada di Bani Sa’ad
Salah satu peristiwa terpenting dalam fase ini adalah peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadis sahih. Salah satu riwayat terkenal terdapat dalam Shahih Muslim yang menjelaskan:
Salah satu peristiwa terpenting dalam fase ini adalah peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadis sahih. Salah satu riwayat terkenal terdapat dalam Shahih Muslim yang menjelaskan:
"Didatangi malaikat Jibril ketika Nabi Muhammad ﷺ masih bermain dengan anak-anak. Lalu malaikat tersebut membaringkan beliau, membelah dadanya, mengeluarkan hatinya, membersihkannya, dan mengembalikannya."
Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dan para ulama hadis lainnya.
Berikut poin-poin peristiwanya sebagaimana disepakati dalam riwayat sahih:
Malaikat mendatangi Nabi Muhammad ﷺ.
Keputusan Halimah Mengembalikan Nabi Muhammad ﷺ
Setelah terjadinya peristiwa pembelahan dada, Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan Nabi Muhammad ﷺ. Dalam literatur sirah, disebutkan bahwa rasa khawatir inilah yang mendorong Halimah mengembalikan beliau kepada ibunya.
Ibnu Hisyam mencatat bahwa Halimah tidak merasa terganggu oleh anak tersebut, melainkan justru takut terjadi sesuatu yang lebih berat.
Pengembalian Nabi Muhammad ﷺ kepada Aminah binti Wahab terjadi sebelum masa asuhan biasa berakhir.
Kembali ke Mekah dan Tinggal Bersama Aminah
Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dan para ulama hadis lainnya.
Berikut poin-poin peristiwanya sebagaimana disepakati dalam riwayat sahih:
Malaikat mendatangi Nabi Muhammad ﷺ.
- Dada beliau dibelah.
- Hati beliau dikeluarkan dan dibersihkan dari unsur yang tidak baik.
- Kemudian dikembalikan ke tempatnya semula.
Keputusan Halimah Mengembalikan Nabi Muhammad ﷺ
Setelah terjadinya peristiwa pembelahan dada, Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan Nabi Muhammad ﷺ. Dalam literatur sirah, disebutkan bahwa rasa khawatir inilah yang mendorong Halimah mengembalikan beliau kepada ibunya.
Ibnu Hisyam mencatat bahwa Halimah tidak merasa terganggu oleh anak tersebut, melainkan justru takut terjadi sesuatu yang lebih berat.
Pengembalian Nabi Muhammad ﷺ kepada Aminah binti Wahab terjadi sebelum masa asuhan biasa berakhir.
Kembali ke Mekah dan Tinggal Bersama Aminah
Setelah kembali dari Bani Sa’ad, Nabi Muhammad ﷺ tinggal bersama ibunya di Mekah. Sirah mencatat bahwa masa kebersamaan ini berlangsung hingga Aminah membawanya ke Madinah untuk menziarahi makam ayahnya. Dalam perjalanan pulang, Aminah wafat di Abwa’, dan Nabi Muhammad ﷺ kemudian diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib.
Fase Madinah dan wafatnya Aminah akan dibahas dalam artikel terpisah sesuai urutan kronologis.
Analisis Historis Fase Bani Sa’ad
Para sejarawan Islam menekankan bahwa fase Bani Sa’ad bukanlah peristiwa kebetulan, tetapi bagian dari persiapan ilahi.
Fase Madinah dan wafatnya Aminah akan dibahas dalam artikel terpisah sesuai urutan kronologis.
Analisis Historis Fase Bani Sa’ad
Para sejarawan Islam menekankan bahwa fase Bani Sa’ad bukanlah peristiwa kebetulan, tetapi bagian dari persiapan ilahi.
Beberapa poin yang sering disebutkan oleh ulama:
Para ulama sepakat bahwa:
Kesimpulan
Pengasuhan Nabi Muhammad ﷺ di Bani Sa’ad merupakan fase penting dalam kehidupannya. Dalam fase ini, terjadi:
RUJUKAN KITAB SIRAH SAHIH
- Lingkungan Pedalaman Membangun Ketahanan Fisik, Kehidupan di padang pasir melatih daya tahan tubuh yang baik.
- Bahasa Arab yang Murni, Kabilah Bani Sa’ad dikenal menjaga bahasa Arab dari campuran dialek asing.
- Kehidupan Sederhana, Nabi Muhammad ﷺ tidak dibesarkan dalam kemewahan, tetapi dalam kesederhanaan.
- Tanda Awal Keberkahan Kenabian, Perubahan hidup keluarga Halimah dipandang sebagai salah satu bukti keberkahan Allah pada diri Nabi Muhammad ﷺ sejak kecil.
- Persiapan Mental Sebelum Wahyu, Lingkungan pedalaman membentuk kedewasaan dan kesederhanaan berpikir sebelum masa kenabian.
Para ulama sepakat bahwa:
- Masa kecil Nabi Muhammad ﷺ tidak dipenuhi keajaiban spektakuler setiap hari.
- Namun beberapa peristiwa penting dicatat sebagai tanda khusus, seperti pembelahan dada.
- Selebihnya adalah kehidupan yang berlangsung normal dan alami.
Kesimpulan
Pengasuhan Nabi Muhammad ﷺ di Bani Sa’ad merupakan fase penting dalam kehidupannya. Dalam fase ini, terjadi:
- Proses pengasuhan biasa sebagaimana anak lain.
- Keberkahan pada keluarga pengasuh.
- Peristiwa pembelahan dada yang diriwayatkan secara sahih.
- Pengembalian kepada ibunya karena kekhawatiran keselamatan.
RUJUKAN KITAB SIRAH SAHIH
Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber utama berikut:
Sirah Ibnu Hisyam (riwayat Ibnu Ishaq)
Al-Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir
Ar-Rahiq Al-Makhtum – Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
Sirah Nabawiyah – Dr. Ali Ash-Shallabi
Shahih Muslim (hadis pembelahan dada)
Shahih Bukhari (riwayat terkait masa kecil Nabi)
Posting Komentar untuk "Diasuh di Bani Sa’ad: Fase Pengasuhan Nabi Muhammad SAW Menurut Sirah Sahih"