Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keutamaan Memaafkan Saat Mampu Membalas: Adab Mulia yang Mengangkat Derajat


Di antara akhlak terbesar yang diajarkan oleh Islam adalah memaafkan ketika seseorang sebenarnya mampu untuk membalas atau mengambil haknya. Akhlak ini disebut oleh para ulama sebagai:
العَفْوُ عِنْدَ الْمَقْدِرَةِ
“Memaafkan saat mampu (untuk membalas).”

Sifat memaafkan sangat tepat dan selaras dengan apa yang diajarkan oleh Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, dan para ulama salaf:

“Pada sikap memaafkan dan berlapang dada, terdapat rasa manis, ketenangan, kemuliaan jiwa, dan ketinggian derajat, daripada membalas dengan balas dendam. Tidak ada kemuliaan pada sikap membalas dan balas dendam.”

Akhlak ini memerlukan kekuatan spiritual, kelapangan dada, dan kedalaman iman. Karena itu, ia menjadi salah satu akhlak termulia dalam Islam.


1. Dalil Al-Qur’an Tentang Keutamaan Memaafkan


Islam bukan agama yang menolak keadilan. Balas membalas dalam batas syariat tetap dibolehkan. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa tingkat yang lebih tinggi dari sekadar menahan diri adalah memaafkan, bahkan jika seseorang memiliki kemampuan untuk membalas.

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Memaafkan lebih dekat kepada takwa Allah Ta‘ala berfirman:
وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
Artinya: 
“Dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Baqarah: 237)

Allah tidak sekadar memuji orang yang adil, tetapi juga mengangkat derajat orang yang memaafkan.

Bahkan Allah memerintahkan memaafkan agar sang pemaaf mendapatkan ampunan-Nya
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Ayat ini turun kepada sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu ketika beliau diuji dengan tuduhan terhadap keluarganya. Akan tetapi Allah tetap memerintahkannya untuk memaafkan.

Dalam ayat yang lain Allah SWT menjelaskan bahwa Allah mencintai orang yang menahan marah dan memaafkan

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“(Yaitu) orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Ayat ini menyebut tiga tingkatan akhlak:
  1. menahan marah,
  2. memaafkan,
  3. berbuat baik kepada orang yang menyakiti

2. Hadits-Hadits Sahih Tentang Keutamaan Memaafkan Saat Mampu Membalas

Para pemaaf adalah Orang kuat sesungguhnya, sebagaiman Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya:
“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa kekuatan sejati bukan fisik, tetapi kekuatan mengendalikan diri.

Dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa Allah SWT menambah kemuliaan bagi yang memaafkan, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
Artinya:
“Allah tidak menambahkan terhadap seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan.”
(HR. Muslim)

Ini bantahan terhadap anggapan  orang yang mengatakan bahwa memaafkan adalah suatu bentuk kelemahan. Tidak! Justru memaafkan mendatangkan izzah.

Dalam hadits yang lain Allah SWT menjanjikan rumah di surga bagi yang meninggalkan debat dan dendam, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Artinya:
“Aku menjamin sebuah rumah di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.” (HR. Abu Dawud)

Jika sekadar meninggalkan perdebatan dijanjikan surga, bagaimana lagi dengan memaafkan saat mampu membalas?

3. Kalam Ulama Tentang Keutamaan Memaafkan

a. Perkataan A‘rabi (orang arab badui)

Dalam Amālī al-Qālī karya Abu ‘Ali al-Qāli disebutkan kalimat sangat indah dari orang arab badwi yang mengatakan:
قَبِيحَةٌ مِنْ ذِي قُدْرَةٍ مُقَابَلَةُ الْإِسَاءَةِ
Artinya:
“Perbuatan paling buruk dari orang yang memiliki kemampuan (membalas) adalah membalas keburukan itu sendiri.”

Maknanya: seseorang diuji bukan ketika ia lemah, tetapi ketika ia kuat—apakah ia memilih memaafkan atau membalas.

b. Ibnu Al-Qayyim dalam Madaarijissalikin

Ibn al-Qayyim menjelaskan kelezatan memaafkan:
فِي الْعَفْوِ وَالصَّفْحِ مِنَ اللَّذَّةِ وَالرَّاحَةِ وَرِفْعَةِ النَّفْسِ مَا لَا يَجِدُهُ الْمُنْتَقِمُ
Artinya:
“Dalam sikap memaafkan dan berlapang dada terdapat kelezatan, ketenangan, dan kemuliaan jiwa yang tidak akan pernah dirasakan oleh orang yang suka membalas dendam.”

c. Imam al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn

Beliau berkata:
الْعَفْوُ مِنْ خُلُقِ الْكِرَامِ، وَهُوَ دَرَجَةٌ لَا يَبْلُغُهَا إِلَّا أَهْلُ الْقُلُوبِ النَّقِيَّةِ
Artinya:
“Memaafkan adalah akhlak orang-orang yang mulia. Derajat ini tidak dicapai kecuali oleh orang-orang yang hatinya bersih.”

d. Sufyān ats-Tsaurī rahimahullah
مَا عَامَلَ الرَّجُلُ أَحَدًا بِالْعَفْوِ إِلَّا زَادَهُ اللهُ عِزًّا
Artinya:
“Tidaklah seseorang memperlakukan orang lain dengan memaafkan kecuali Allah menambah kemuliannya.”

4. Hikmah Memaafkan Saat Mampu Membalas
  • Memaafkan adalah bentuk kekuatan batin
Kekuatan fisik membuat seseorang mampu membalas, tetapi kekuatan iman membuatnya mampu menahan diri dan memaafkan.
  • Memaafkan menghilangkan beban
Dendam ibarat bara api yang terus membakar diri. Memaafkan memadamkan api itu.
  • Memaafkan membuka pintu ketenangan dan kemenangan spiritual
Ibnu al-Qayyim menegaskan bahwa tidak ada kenikmatan jiwa yang lebih besar selain melepaskan dendam.
  • Memaafkan adalah jalan para nabi
Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya. Nabi Muhammad ﷺ memaafkan penduduk Thaif, memaafkan Quraisy pada Fathu Makkah.
  • Memaafkan menjadi sebab turunnya ampunan Allah
Sebagaimana QS. An-Nur ayat 22, Allah mengaitkan memaafkan dengan ampunan-Nya.


5. Mengapa Memaafkan Saat Mampu Balas Lebih Mulia dari Balas Dendam?

Karena balas dendam tidak memberikan kemuliaan. Walaupun sering dianggap “membuat puas”, hakikatnya balas dendam justru merendahkan jiwa. Karena memaafkan dilakukan dari posisi lebih tinggi

Ketika seseorang memaafkan dalam keadaan lemah, itu wajar. Tetapi ketika seseorang kuat, mampu membalas, namun ia memilih memaafkan, maka itulah puncak akhlak.

Kesimpulan: Memaafkan Adalah Jalan Kemuliaan

Memaafkan ketika mampu membalas bukan sekadar pilihan ahlak mulia—tetapi ia adalah cermin kekuatan ruhani, kedalaman iman, dan keluhuran akhlak. Para ulama, para nabi, dan seluruh ajaran Islam sepakat bahwa memaafkan:
  • mengangkat derajat,
  • melapangkan hati,
  • menenangkan jiwa,
  • mendatangkan ampunan Allah,
  • menumbuhkan hubungan sosial yang penuh rahmat.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang berhati lapang, mudah memaafkan, dan selalu memilih jalan kemuliaan. Amiin 

 والله أعلم بالصواب

Posting Komentar untuk "Keutamaan Memaafkan Saat Mampu Membalas: Adab Mulia yang Mengangkat Derajat"