Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bahaya Riya’: Penyakit Hati yang Menggugurkan Amal Tanpa Disadari

Ikhlas ibadah

Ketika Amal Terlihat Indah, Tapi Kosong di Sisi Allah

Ada ibadah yang tampak besar, tapi tidak bernilai. Ada amal yang kelihatan kecil, tapi berat di timbangan. Perbedaan keduanya bukan pada jumlah, bukan pada keramaian, bukan pada cerita yang mengiringinya, melainkan pada niat.

Riya’ adalah penyakit yang menyerang inti amal. Ia merusak bukan pada kulitnya, tapi pada jantungnya. Orang bisa tampak ahli ibadah, lancar berbicara tentang agama, rajin berbagi sedekah, namun seluruhnya runtuh hanya karena satu hal: ingin dilihat.

Awalnya hanya ingin dikenal sebagai orang baik. Lalu ingin dihormati. Lalu ingin disebut ulama. Lalu ingin diundang dan diikuti. Akhirnya apa yang disebut ibadah berubah menjadi panggung, dan amal menjadi pertunjukan. Yang dicari bukan ridha Allah, melainkan pandangan manusia.

Padahal, apalah arti pujian manusia jika Allah murka? Dan apa gunanya amal jika tidak sampai ke langit?

1. Definisi Riya’: Ibadah yang Menyimpang Tujuan

Riya’ adalah beramal dengan tujuan dilihat manusia. Ia bisa muncul:
  • sejak niat awal,
  • menyusup di tengah amal,
  • atau muncul setelah selesai dalam bentuk bangga dan ingin disanjung.
Para ulama menyebutkan: riya’ adalah syirik kecil, tetapi dampaknya bisa lebih besar dari dosa besar. Sebab ia menghancurkan semua amal dalam satu waktu.

2. Teguran Langsung dari Al-Qur’an

Allah tidak berbicara tentang riya’ secara ringan.

 فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ، الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ، وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Celaka bagi orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’, dan enggan menolong dengan hal kecil.”

(QS. Al-Ma’un: 4–7)

Perhatikan: orang-orang ini shalat, tapi diancam “celaka”. Yang dipersoalkan bukan gerakan, melainkan niat.

Allah juga berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama hanya bagi-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

3. Hadis-Hadis Sahih: Riya’ adalah Syirik Kecil

  • Riya' adalah syirik Kecil
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكَ الْأَصْغَرَ
Para sahabat bertanya:
وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟
Beliau menjawab:
الرِّيَاءُ
Lalu Allah berfirman pada hari kiamat:
اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
Artinya:
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil?” Beliau menjawab, “Riya’.”
Allah berfirman pada hari kiamat: “Pergilah kepada orang-orang yang kalian pameri di dunia. Apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?” (HR. Imam Ahmad )
  • Allah menolak amal yang bercampur riya'
Rasulullah bersabda
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Artinya : 
“Allah berfirman: Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa beramal dan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR. Muslim)
  • Riya' di balas dengan kehinaan
Dan:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
Artinya:
“Barang siapa ingin didengar, Allah akan membuka aibnya. Barang siapa pamer, Allah akan memperlihatkan hakikatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Kisah Nyata: Ulama yang Takut Terkenal

Seorang ulama salaf pernah berkata:

“Tidak ada yang lebih aku takuti dari pada popularitas yang datang sebelum aku siap secara iman.”

Diriwayatkan, ada ulama yang pindah kota hanya karena namanya mulai terkenal. Ada pula yang mengubah jalan pulang agar tidak disapa. Bukan karena sombong, tapi karena takut hatinya rusak.

Imam Ahmad pernah menolak menulis buku saat dipuji orang. Beliau berkata: “Jika aku menulis sekarang, aku khawatir menulis untuk namaku, bukan untuk Rabbku.”

Abu Hanifah dikenal menolak jabatan qadhi, bukan karena merasa suci, tapi karena takut hatinya rusak oleh dunia dan sanjungan.

5. Riya’ di Era Digital: Panggung Tak Terbatas

Riya’ dulu terjadi di masjid. Sekarang ia terjadi di mana saja: layar ponsel.
  • Foto sedekah
  • Story tahajud
  • Status kajian
  • Reels syahdu
Semua bisa bernilai dakwah. Tapi bisa juga berubah menjadi cermin batin.

Pertanyaannya bukan: “Konten ini baik atau tidak.” 
Pertanyaannya: “Untuk siapa ini dibuat?”

Orang ikhlas sedih jika kontennya menyingkirkan Allah. 
Orang riya’ sedih jika kontennya tak dilihat manusia.

6. Gejala-Gejala Riya’ yang Sering Tak Disadari
  • Lebih semangat saat ditonton
  • Longgar saat sendiri
  • Menunggu pujian
  • Kecewa bila tak diapresiasi
  • Sibuk membandingkan diri
  • Mengungkit amal
  • Senang disebut-sebut
Jika hati rewel tanpa pengakuan manusia, itu sinyal bahaya.

7. Perbandingan Niat: Mukhlis vs Pencari Nama

Orang ikhlas:
  • Tidak Senang jika amalnya rusak
  • Senang jika orang lain mendapat pahala
  • Malu bila dipuji
  • Tak peduli apakah dikenang atau tidak
Orang riya’:
  • Resah jika tidak dianggap
  • Iri jika orang lain lebih dikenal
  • Lapar pengakuan
  • Tak bisa tenang tanpa sorotan
8. Peringatan: Amal Bisa Dihabiskan Dalam Sehari

Nabi ﷺ menceritakan bahwa pada hari kiamat, ada orang yang:
syahid, ahli sedekah, dan ahli Al-Qur’an. 
Tapi semuanya dilempar ke neraka karena niatnya ingin disebut hebat.

Maka seseorang bisa masuk neraka bukan karena dosa besar, tapi karena amal baik yang dikerjakan dengan maksud buruk.

9. Jalan Penyembuhan: Mengembalikan Amal kepada Allah
  • Memperkuat Tauhid
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Artinya: “Segala nikmat berasal dari Allah.”

(QS. An-Nahl: 53)

Kalau semua dari Allah, mengapa pamer ke manusia?
  • Membiasakan Amal Rahasia
Punya satu ibadah yang: tak ada yang tahu, tak ada yang memuji, tak ada yang melihat kecuali Allah. Maka Inilah benteng keikhlasan.
  • Berdialog dengan Hati
Setiap ingin pamer, tanya:

“Jika tak ada yang tahu aku beramal, apakah aku masih mau mengerjakannya ?”

Kalau tidak, berarti ini bukan untuk Allah.
  • Banyak Berdoa
Nabi Muhammad SAW mengajaran sebuah Doa:

> اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung dari menyekutukan-Mu dengan sadar, dan aku mohon ampun atas yang tidak aku sadari.”

(HR. Ahmad, sahih)
  • Mengingat Kematian
Di kubur, tidak ada kamera.
Tidak ada komentar.
Tidak ada pengikut.
Yang ada hanya: amal + niat.

10. Nasihat Ulama tentang Keikhlasan

  • Imam al-Ghazali berkata:
“Riya’ bukan hanya ingin dilihat manusia, tapi juga merasa diri lebih suci dari mereka.”
  • Ibnu Rajab al-Hanbali berkata:
“Amal yang diterima bukan yang banyak, tapi yang ikhlas dan sesuai sunnah.”

Kita Sedang Mencari Siapa?

Apakah kita beribadah untuk: Allah yang Maha Melihat? atau Manusia yang cepat lupa?
Orang ikhlas masuk surga dengan tenang. Orang riya’ masuk penyesalan dengan pilu.
Pilihannya bukan di tangan orang lain. Pilihannya di hati kita hari ini.

Bangun Amal di Atas Batu, Bukan di Atas Pasir

Riya’ itu ibarat pasir. Keikhlasan itu batu. Maka Banyak bangunan runtuh
bukan karena kecil, tapi karena pondasinya rapuh.

Oleh karena itu Perbaiki niat sebelum memperbanyak amal. Karena amal tanpa niat hanyalah gerak, dan gerak tanpa Allah hanyalah kosong.

Posting Komentar untuk "Bahaya Riya’: Penyakit Hati yang Menggugurkan Amal Tanpa Disadari"