Sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu: Suara Tauhid yang Menggetarkan Langit
Di dunia yang sering memuliakan kekayaan dan keturunan, Islam datang dengan membawa aturan baru:
yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.
Dan tak ada kisah yang lebih menggambarkan ayat ini selain kehidupan sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu.
Ia bukan bangsawan. Ia bukan orang kaya. Ia bukan orang terpandang.
Ia seorang budak berkulit hitam.
Namun namanya disimpan Allah di langit, dan suaranya dipilih untuk mengumandangkan azan — panggilan suci umat Islam sepanjang zaman.
Kehidupan Awal: Lahir Sebagai Budak
Sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu lahir di Mekah dalam keadaan terbelenggu oleh dua hal:
perbudakan & kehinaan sosial
Ayahnya bernama Rabah, ibunya Hamamah — mantan budak Habasyah.
Ia dikuasai oleh Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh kafir Quraisy paling kejam.
Dalam sistem jahiliah, budak tidak lebih dari barang.
Cahaya Islam Menyentuh Hati Bilal
Saat dakwah Islam mulai menyebar diam-diam, Bilal mendengarnya.
Tentang:
- Tuhan yang maha esa
- manusia setara
- keadilan di hadapan Allah
- surga bagi orang beriman
Hatinya bergetar.
Ia menerima Islam secara diam-diam.
Namun iman tidak bisa disembunyikan lama.
Siksaan di Padang Pasir
Ketika Umayyah tahu Bilal masuk Islam, ia murka.
Ia menyiksa sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu dengan:
- dijemur di tengah terik
- ditindih batu besar
- dipukul
- dirantai
- direndahkan
Lalu menyuruhnya: "Sebutan nama Lata dan Uzza!"
Namun Bilal menjawab:
"Ahad... Ahad..."
Satu kata ini mengguncang sejarah.
Dibebaskan oleh Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu
Melihat penderitaan sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dan membeli Bilal dengan harga mahal.
Orang menjulid: "Engkau menipu dirimu, Abu Bakar."
Namun Abu Bakar menjawab: "Aku ingin membeli surga."
Bilal pun merdeka.
Namun ia memilih tidak meninggalkan Nabi.
Ia memilih tinggal bersama Islam.
Bilal di Medan Perang
Jangan sangka Bilal hanya muazin.
Ia juga mujahid.
Dalam Perang Badar, sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu bertemu majikannya yang dulu menyiksanya: Umayyah bin Khalaf.
Di medan perang itu, sejarah berakhir: yang ditindas menang, yang zalim tumbang.
Setelah Rasulullah Wafat
Hari Rasulullah ﷺ wafat, sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu kehilangan suara.
Ia tidak bisa lagi mengumandangkan azan.
Setiap kalimat azan membuat dadanya meledak oleh rindu.
Ia berkata:
"Aku tidak sanggup menyeru manusia setelah Rasulullah tiada."
Ia pun meninggalkan Madinah.
Azan Terakhir Bilal
Bertahun-tahun kemudian, sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu kembali.
Diminta untuk azan di Madinah.
Saat ia mengumandangkan:
"Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah"
Seluruh Madinah menangis.
Karena suara itu membawa Rasulullah kembali… dalam kenangan.
Wafat di Negeri Syam
Sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu wafat di Syam.
Menjelang ajal, istrinya menangis.
Namun Bilal berkata:
"Besok aku akan bertemu Rasulullah."
Ia wafat dengan senyum.
Pelajaran dari Sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu
- Iman mengangkat martabat
- Tauhid menghapus perbudakan
- Kesabaran mengalahkan kekerasan
- Dunia hina, akhirat mulia
- Allah tidak melihat rupa, tapi hati
Renungan Pribadi
Kisah sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu membuat kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah selama ini kita mencari kemuliaan dari manusia… atau dari Allah?
Bilal dicambuk manusia, tapi dimuliakan langit.
Refleksi untuk Kita
Kalau Bilal yang disiksa tidak meninggalkan Islam, kenapa kita menyerah hanya karena ejekan?
Kalau Bilal yang terbelenggu masih setia, kenapa kita yang merdeka suka lalai?
Posting Komentar untuk "Sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu: Suara Tauhid yang Menggetarkan Langit"