Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wafatnya Aminah binti Wahab: Awal Masa Yatim Piatu Nabi Muhammad SAW Menurut Sirah Sahih

Fase wafatnya Aminah binti Wahab merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ. Pada fase ini, Nabi Muhammad ﷺ kehilangan satu-satunya orang tua yang masih tersisa dalam hidupnya. Ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, telah wafat sebelum beliau dilahirkan. Maka wafatnya Aminah menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai anak yatim piatu sepenuhnya di usia yang masih sangat muda.

Sirah nabawiyah mencatat secara ringkas namun jelas peristiwa ini. Para sejarawan Islam, seperti Ibnu Hisyam, Ibnu Katsir, dan ulama setelah mereka, menempatkan wafatnya Aminah sebagai salah satu peristiwa emosional dalam sejarah Nabi Muhammad ﷺ—bukan karena disertai cerita dramatis, melainkan karena kenyataan bahwa beliau harus menghadapi kehidupan tanpa orang tua pada usia yang sangat belia.

Artikel ini menyajikan peristiwa tersebut secara runtut berdasarkan kitab-kitab sirah yang sahih, tanpa penambahan detail imajinatif.

Latar Belakang: Nabi Muhammad ﷺ Setelah Kembali dari Bani Sa’ad

Setelah masa pengasuhan Nabi Muhammad ﷺ di pedalaman Bani Sa’ad oleh Halimah As-Sa’diyah, beliau dikembalikan kepada ibunya, Aminah binti Wahab, di Mekah. Dalam riwayat disebutkan bahwa pengembalian itu terjadi setelah peristiwa pembelahan dada yang mendorong kekhawatiran Halimah terhadap keselamatan Nabi Muhammad ﷺ.

Sejak kembali ke Mekah, Nabi Muhammad ﷺ hidup bersama ibunya. Namun, masa kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Menurut mayoritas riwayat, beliau tinggal bersama Aminah sekitar satu hingga dua tahun sebelum ibunya membawanya melakukan perjalanan ke Madinah.

Tujuan perjalanan ini adalah menziarahi makam ayah Nabi Muhammad ﷺ, yakni Abdullah bin Abdul Muthalib, yang wafat di Madinah saat berdagang sebelum kelahiran beliau.

Selain itu, Aminah juga hendak mengunjungi keluarga Abdul Muthalib dari pihak Bani Najjar, yang merupakan keluarga kerabat di Madinah.

Perjalanan dari Mekah ke Madinah

Perjalanan dari Mekah ke Madinah pada masa itu bukan perjalanan yang mudah. Jarak antara kedua kota tersebut mencapai ratusan kilometer dan harus ditempuh melalui jalur kafilah di padang pasir.

Aminah melakukan perjalanan tersebut ditemani oleh:
Nabi Muhammad ﷺ, Ummu Aiman (Barakah), pembantu keluarga Abdullah dan Aminah
Ummu Aiman adalah sosok yang dikenal dalam sirah sebagai perempuan yang sangat setia kepada keluarga Nabi Muhammad ﷺ sejak kecil.

Sirah tidak mencatat peristiwa luar biasa dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah. Tidak ada riwayat yang menyebutkan mukjizat khusus, kejadian menakjubkan, atau insiden alam di sepanjang perjalanan tersebut. Yang dicatat hanyalah bahwa perjalanan tersebut benar-benar terjadi dan mencapai Madinah dengan selamat.

Tinggal di Madinah

Setibanya di Madinah, Aminah tinggal beberapa waktu di rumah keluarga Bani Najjar, kerabat Abdul Muthalib.

Sirah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tinggal di Madinah selama sekitar satu bulan. Dalam waktu tersebut, Nabi Muhammad ﷺ diperkenalkan kepada keluarga ayahnya dari pihak maternal.

Madinah bukanlah kota asing bagi keluarga Abdul Muthalib, karena Abdullah bin Abdul Muthalib pernah menetap di sana dalam perjalanan dagangnya dan wafat di kota tersebut.

Di sinilah Nabi Muhammad ﷺ pertama kali mengenal kota Madinah yang kelak menjadi pusat dakwah Islam belasan tahun kemudian.

Namun sirah tidak menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu apa pun, melihat tanda-tanda kenabian, atau mengalami peristiwa gaib selama tinggal di Madinah pada masa kecilnya.

Para sejarawan menegaskan bahwa masa tinggal ini adalah perjalanan biasa seorang ibu yang hendak mengenalkan anaknya kepada keluarga ayahnya.

Perjalanan Pulang dan Sakitnya Aminah

Setelah urusan ziarah dan kunjungan keluarga selesai, Aminah memutuskan kembali ke Mekah. Dalam perjalanan pulang, rombongan singgah di sebuah tempat bernama Abwa’, sebuah wilayah antara Mekah dan Madinah. Di kawasan inilah Aminah jatuh sakit.

Sirah tidak menjelaskan secara detail penyakit yang diderita Aminah. Tidak ada keterangan tentang jenis sakit, durasi sakit yang rinci, atau proses medis, kecuali bahwa sakit tersebut berujung pada wafatnya beliau.

Yang pasti, Aminah wafat dalam perjalanan, jauh dari kota kelahirannya dan jauh dari keluarganya di Mekah.

Ummu Aiman menjadi satu-satunya orang dewasa yang menemani Nabi Muhammad ﷺ pada saat itu.

Wafatnya Aminah binti Wahab

Aminah wafat ketika Nabi Muhammad ﷺ masih berusia sekitar enam tahun. Para sejarawan sepakat bahwa wafatnya terjadi di Abwa’, dan jenazah Aminah dimakamkan di sana.

Tidak terdapat riwayat sahih yang menggambarkan suasana emosional Nabi Muhammad ﷺ secara detail. Tidak ditemukan hadis sahih yang menyebutkan tangisan beliau, kesedihannya, atau reaksi tertentu saat ibunya wafat.
Maka dalam penulisan sejarah, tidak boleh ditambahkan emosi emosional yang bersifat dugaan.
Yang disebutkan oleh sirah hanyalah: Aminah wafat, Nabi Muhammad ﷺ menjadi yatim piatu. Ummu Aiman membawa Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Mekah.
Kesederhanaan catatan ini mencerminkan ketelitian ulama dalam membedakan antara fakta sejarah dan dugaan emosional.

Kembali ke Mekah Bersama Ummu Aiman

Setelah pemakaman Aminah, Ummu Aiman membawa Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Mekah.
Dalam rentang perjalanan yang panjang itu, Nabi Muhammad ﷺ berada dalam perlindungan seorang perempuan yang bukan ibu kandungnya, namun telah mendampingi beliau sejak kecil.
Ummu Aiman kemudian menyerahkan Nabi Muhammad ﷺ kepada kakeknya, Abdul Muthalib.
Dengan wafatnya Aminah, seluruh tanggung jawab pengasuhan Nabi Muhammad ﷺ beralih kepada kakeknya.
Nabi Muhammad ﷺ dalam Asuhan Abdul Muthalib

Abdul Muthalib adalah pemimpin Quraisy yang sangat disegani di Mekah. Ia memiliki kedudukan sosial tinggi dan dikenal sebagai tokoh yang dihormati.
Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir mencatat bahwa Abdul Muthalib memberikan perhatian besar kepada cucunya. Ia menyayangi Nabi Muhammad ﷺ lebih dari cucu-cucunya yang lain.
Riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sering duduk di tempat duduk khusus Abdul Muthalib di sekitar Ka’bah.
Namun, sirah tidak menuturkan bentuk-bentuk kasih sayang itu dengan kalimat-kalimat emosional hiperbolik. Yang disebut hanya penghormatan dan perhatian Abdul Muthalib kepada cucunya.

Wafatnya Abdul Muthalib dan Perpindahan Asuhan

Abdul Muthalib wafat ketika Nabi Muhammad ﷺ berusia sekitar delapan tahun.
Sejak saat itu, pengasuhan Nabi Muhammad ﷺ diteruskan oleh pamannya, Abu Thalib.
Namun, itu adalah fase lain yang akan dibahas dalam artikel tersendiri.
Dalam konteks artikel ini, peralihan pengasuhan ini menunjukkan bahwa:
Nabi Muhammad ﷺ kehilangan figur orang tua secara bertahap.
Beliau tumbuh dalam kondisi yang tidak pernah bergantung pada kemewahan keluarga inti.

Analisis Historis: Makna Wafatnya Aminah dalam Sirah

Para sejarawan dan ulama sirah membahas peristiwa wafatnya Aminah bukan sebagai tragedi emosional, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ yang membentuk karakter beliau.
Beberapa poin penting yang dianalisis oleh para ulama:
1. Nabi Muhammad ﷺ Tumbuh Tanpa Ketergantungan Keluarga Inti
Sejak kecil, beliau telah kehilangan ayah dan ibu. Ini membentuk kemandirian sejak usia dini.

2. Tidak Terikat Kepentingan Nasab Keluarga Dekat
Kehidupan Nabi Muhammad ﷺ tidak dibentuk oleh kepentingan keluarga inti, sehingga dakwah beliau kelak bersifat objektif dan adil.
3. Allah Menumbuhkan Nabi Muhammad ﷺ Melalui Perlindungan Sosial
Pengasuhan oleh kakek dan paman menunjukkan bagaimana Allah menjamin perlindungan sosial bagi Nabi Muhammad ﷺ tanpa bergantung pada orang tua biologis.
4. Kematangan Emosi Tanpa Ketergantungan Berlebihan
Sirah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tumbuh kuat tanpa bergantung pada kemanjaan orang tua.

Pandangan Ulama tentang Hikmah Wafatnya Aminah

Para ulama tidak berspekulasi berlebihan tentang “alasan tersembunyi” wafatnya Aminah. Mereka berhenti pada batas nash dan riwayat.
Namun sebagian ulama memberikan pelajaran umum, hikmah yang diambil dari kejadian:

Kehidupan Nabi Muhammad ﷺ adalah bukti bahwa kemuliaan seseorang tidak bergantung pada kekuatan keluarga. Dakwah Nabi Muhammad ﷺ tidak didukung oleh nasab kekuasaan dari orang tua. Sejak kecil, beliau dibentuk dalam keadaan kejujuran, kesabaran, dan keteguhan.

Perbandingan dengan Pola Hidup Nabi Sebelumnya

Jika ditelusuri secara utuh:
1. Nabi Muhammad ﷺ lahir sebagai anak yatim.
2. Diasuh di pedalaman.
3. Kehilangan ibu di usia enam tahun.
4. Kehilangan kakek di usia delapan tahun.
5. Diasuh oleh paman yang hidup dalam keterbatasan.

Dan beliau adalah contoh nyata bahwa:

Keteguhan tidak selalu lahir dari kenyamanan.
Kepemimpinan tidak selalu dilahirkan oleh kekuasaan.
Keteladanan lahir dari pengalaman hidup, bukan warisan kekayaan.


Wafatnya Aminah binti Wahab di Abwa’ adalah peristiwa historis yang jelas dan sahih dalam sirah.

Informasi yang sahih yang dapat disimpulkan:
Aminah membawa Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah.
Mereka tinggal sekitar satu bulan.
Dalam perjalanan pulang, Aminah sakit di Abwa’.
Aminah wafat dan dimakamkan di tempat tersebut.
Ummu Aiman membawa Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Mekah.
Nabi Muhammad ﷺ diasuh oleh Abdul Muthalib.

Tidak ada riwayat sahih tentang:
Dialog terakhir Aminah.
Keadaan emosional Nabi Muhammad ﷺ secara detail.
Tangisan atau peristiwa spektakuler saat wafatnya Aminah.

📚 RUJUKAN SIRAH SAHIH
Artikel ini disusun berdasarkan:
Ibnu Hisyam – Sirah Nabawiyah
Ibnu Katsir – Al-Bidayah wan Nihayah
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri – Ar-Rahiq Al-Makhtum
Dr. Ali Ash-Shallabi – Sirah Nabawiyah
Shahih Muslim dan Shahih Bukhari (riwayat konteks masa kecil Nabi Muhammad ﷺ)

Posting Komentar untuk "Wafatnya Aminah binti Wahab: Awal Masa Yatim Piatu Nabi Muhammad SAW Menurut Sirah Sahih"