Keutamaan Puasa Rajab: Hadits, Fadhilah, dan Anjuran Para Ulama
Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Puasa
Rajab
Para ulama
hadits mengatakan bahwa semua hadits terkait keutamaan Rajab dan puasanya secara
khusus adalah hadits dhaif. Hadits dhaif memang tidak bisa menjadi
rujukan dalam hukum dan akidah, akan tetapi para ulama sepakat bahwa hadits
dhaif bisa menjadi rujukan dalam keutamaan suatu amal. Imam Ibnu Hajar
Al-Haitami berkata dalam ‘Fathul Mubin’ hal 32:
قَدِ
اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ فِي
فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ
Ulama telah
menyepakati bolehnya mengamalkan Hadits Dhaif dalam masalah fadhoilul `Amal
(Pembahasan keutamaan suatu amal).
Pemimpin para salaf, Imam Ahmad radhiyallahu anhu mengatakan:
"إذَا رَوَيْنَا عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَلالِ وَالْحَرَامِ
شَدَّدْنَا فِي الأَسَانِيدِ. وَإِذَا رَوَيْنَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضَائِلِ الأَعْمَالِ، وَمَا لا يَضَعُ حُكْمًا وَلا
يَرْفَعُهُ تَسَاهَلْنَا فِي الأَسَانِيدِ
Jika kami
meriwayatkan dari Nabi ﷺ mengenai halal dan haram (hukum syariat) maka kami
perketat sanad periwayatannya. Namun jika kami meriwayatkan dari Nabi ﷺ mengenai keutamaan-keutamaan amalan selama tidak
untuk menetapkan atau menghapus hukum, kami melonggarkan dalam masalah
sanadnya. (Al Kifayah hal
134)
Hadits-hadits
yang membahas mengenai keutamaan puasa Rajab secara khusus memang
adalah hadits Dhaif. Akan tetapi karena banyak jalur periwayatannya, maka
hadits-hadits itu menjadi kuat sebagaimana dikatakan oleh
Syekh Mula Ali Qari dalam kitab Adab Fi Rajab. Selain itu,
hadits-hadits dhaif bisa dijadikan rujukan terkait keutamaan-keutamaan amal
sebagaimana telah masyhur di kalangan Ahlu Hadits.
Di antara
hadits-hadits yang menerangkan keutamaan Puasa Rajab adalah:
· Nabi ﷺ berpuasa Rajab
Sahabat Abdullah bin Umar
radhiyallahu anhu pernah ditanya:
هَلْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ
فِي رَجَب؟
Apakah Rasulullah ﷺ berpuasa di bulan Rajab?
Beliau
menjawab:
نَعَمْ، وَيُشَرِّفُهُ (قَالَهَا ثَلَاثًا)
“Benar, dan beliau
memuliakannya. (Beliau mengatakan tiga kali) (HR Abu
Dawud)
· Satu Hari Puasa seperti Satu Tahun
إن رجب
شهرٌ عظيمٌ، تُضَاعَفُ فِيهِ الْحَسَنَاتُ، فَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ
كَانَ كَصِيَامِ سَنَة
Sesungguhnya
Rajab merupakan bulan yang agung. Amal-amal kebaikan dilipatgandakan di
dalamnya. Siapa yang berpuasa sehari di dalamnya maka ia seolah berpuasa selama
setahun. (HR Rafi’i, Ibnu
Asakir, Thabrani, Al-Asfihani, dan Al-Baihaqi)
· Menghapus Dosa
Diriwayatkan
bahwa Nabi ﷺ bersabda:
صَوْمُ أَوَّلِ يَوْمٍ في رجب كفارة ثلاث سِنِينَ وَالثَّانِي
كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ وَالثَّالِثُ كَفَّارَةُ سنةٍ ثُمَّ كُلُّ يومٍ شَهْرٍ
Puasa hari
pertama bulan Rajab penghapus dosa tiga tahun, puasa hari kedua penghapus dosa
dua tahun, kemudian setiap harinya penghapus dosa sebulan. (HR Al-Khallal)
· Sungai Di Surga Bagi Yang Berpuasa Rajab
Diriwayatkan
bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ رَجَبٌ، أَشَدُّ
بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْمًا وَاحِدًا سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ
ذَلِكَ النَّهْرِ
Sesungguhnya
di surga terdapat sungai yang dinamai dengan ‘Rajab’ lebih putih dari susu dan lebih manis
dari madu. Siapa yang berpuasa dari bulan Rajab sehari saja, maka Allah
akan memberinya minum dari sungai itu. (HR Baihaqi dan AS-Sairaji dalam Alqab)
· Ditutup Pintu Neraka Bagi Yang Berpuasa Rajab
Diriwayatkan
dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:
من صام أول يوم من رجب عدل ذلك بصيام سنة ومن صام سبعة أيام أغلق عنه
سبعة أبواب النيران ومن صام من رجب عشرة أيام نادى مناد من السماء أن سل تعطه
Siapa yang
berpuasa di hari pertama bulan Rajab, maka itu setara dengan puasa selama satu
tahun. Siapa yang berpuasa tujuh hari, maka ditutup baginya tujuh pintu neraka.
Siapa yang berpuasa di bulan Rajab selama sepuluh hari, maka akan ada seruan
dari langit: “Mintalah apa saja, Engkau akan diberi.” (HR Abu Nuaim dan Ibnu Asakir)
· Istana Di Surga
Diriwayatkan
bahwa Abu Qilabah mengatakan:
في الجنة
قصر لصوام رجب
“Di surga terdapat istana bagi mereka yang
berpuasa di di Bulan Rajab” (HR Baihaqi)
Menanggapi hadits ini Imam Ahmad berkata :
وإن كان موقوفا على أبي قلابة وهو من التابعين ، فمثله لا يقول ذلك
إلا عن بلاغ عمن فوقه ممن يأتيه الوحي ، وبالله التوفيق
(Hadits ini)
meskipun dimauqufkan kepada Abi Qilabah salah seorang tabi`in, tetapi seorang
sepertinya tidak (mungkin) mengatakan hal ini kecuali berdasarkan penyampaian
dari orang diatasnya (sahabat) dari Ia yang didatangi wahyu (Rasulullah).(Syu’abul Iman)
· Mulailah Lembaran Baru
Dari Sahabat
Abu Dzar radhiyallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
من صام يوما من رجب، عدل صيامه شهرا. ومن صام منه سبعة أيام، غلقت
عنه أبواب الجحيم، ومن صام منه ثمانية أيام، فتحت له أبواب الجنة الثمانية، ومن
صام منه عشرة أيام، بدلت سيئاته حسنات، ومن صام منه ثمانية عشر يوما، نادى مناد :
أن الله قد غفر لك ما مضى، فاستأنف العمل
Siapa yang
berpuasa sehari dari Rajab, maka itu setara dengan puasa sebulan. Siapa yang
berpuasa tujuh hari darinya maka akan ditutup baginya pintu-pintu neraka yang
tujuh. Siapa yang berpuasa delapan hari darinya maka akan dibukakan baginya
pintu-pintu surga yang delapan. Siapa yang berpuasa sepuluh hari darinya maka
keburukannya akan diganti menjadi kebaikan. Siapa yang berpuasa delapan belas
hari darinya, maka akan ada seruan padanya: “Sungguh Allah telah mengampunimu
atas apa yang telah lalu, maka mulailah lembaran amal baru!” (HR Al-Khatib(
Dalam riwayat
lain, Sahabat Anas radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ كَانَ كَصِيَامِ سَنَةٍ، وَمَنْ
صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ غُلِّقَتْ عَنْهُ سَبْعَةُ أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، وَمَنْ
صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ،
وَمَنْ صَامَ عَشَرَةَ أَيَّامٍ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا
إِلَّا أَعْطَاهُ، وَمَنْ صَامَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا نَادَى مُنَادٍ مِنَ
السَّمَاءِ قَدْ غُفِرَ لَكَ مَا سَلَفَ فَاسْتَأْنِفِ الْعَمَلَ قَدْ بُدِّلَتْ
سَيِّئَاتُكَ حَسَنَاتٍ، وَمَنْ زَادَ زَادَهُ اللَّهُ
وَفِي رَجَبٍ حُمِلَ نُوحٌ فِي السَّفِينَةِ، فَصَامَ نُوحٌ عَلَيْهِ
السَّلَامُ وَأَمَرَ مَنْ مَعَهُ أَنْ يَصُومُوا وَجَرَتْ بِهِمُ السَّفِينَةُ
سِتَّةَ أَشْهُرٍ إِلَى آخِرِ ذَلِكَ لِعَشْرٍ خَلَوْنَ مِنَ الْمُحَرَّمِ
“Siapa
yang berpuasa sehari di Bulan Rajab seakan ia berpuasa selama setahun. Siapa
yang berpuasa tujuh hari, maka akan ditutup baginya tujuh pintu neraka. Siapa
yang berpuasa delapan hari, maka akan dibuka baginya delapan pintu surga. Siapa
yang berpuasa sepuluh haru, maka ia tidak memohon kepada Allah sesuatupun
kecuali Allah akan memberikannya. Siapa yang berpuasa selama lima belas hari,
akan ada seruan yang menyeru dari langit : “Telah aku ampuni apa yang lalu,
mulailah lembaran amal bari. Sungguh keburukan-keburukanmu telah digantikan
dengan kebaikan.”
Dalam bulan
Rajab, Nabi Nuh alaihissalam menaiki perahu. Beliau pun berpuasa dan
memerintahkan semua yang ada bersamanya untuk berpuasa. Perahu itu
membawa mereka selama enam bulan. Sampai akhirnya yaitu tanggal 10 Muharam.” (HR Thabrani)
· Fadhilah Puasa Kamis, Jumat, dan Sabtu
Diriwayatkan
dari sahabat Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ
ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ: الْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ،
كُتِبَ لَهُ عِبَادَةُ سَنَتَيْنِ
Siapa yang
berpuasa tiga hari di bulah haram, yaitu Hari Kamis, Jumat dan Sabtu, maka
dicatat baginya ibadah selama dua tahun. (HR Thabrani)
Dalam redaksi
lain:
مَنْ صَامَ
فِي كُلِّ شَهْرٍ حَرَامٍ الْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ كُتِبَتْ لَهُ
عِبَادَةُ سبعِمِائَةِ سَنَة
Siapa yang
berpuasa setiap bulan Haram pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu, maka dicatat
baginya ibadah selama tujuh ratus tahun. (HR Ibnu Syahin dan Ibnu Asakir)
Keterangan:
Bulan Haram yaitu bukan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab.
Penutup:
Perkataan Para Ulama Tentang Hadits Puasa Rajab
Hadits-hadits khusus tentang
Puasa Rajab memang dhoif, akan tetapi masih bisa diamalkan. , Al Imam
Nawawi dan Ibnu Sholah berkata :
وَلَمْ يَثْبُت فِي صَوْم رَجَب نَهْيٌ وَلَا نَدْبٌ لِعَيْنِهِ ،
وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ ، وَفِي سُنَن أَبِي دَاوُدَ أَنَّ
رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْم مِنْ
الْأَشْهُر الْحُرُم ، وَرَجَب أَحَدهَا . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
“Tidak ada yang tetap (shohih) mengenai puasa Rajab baik larangan ataupun anjuran khusus, tetapi hukum asal puasa adalah sunnah, dan di dalam Sunan Abi Dawud bahwa Rasulullah saw menganjurkan berpuasa di asyhuril hurum dan Rajab adalah salah satunya (Syarah Muslim juz 4 hal 167 dan Faidhul Qodir juz 4 hal 277)
Lebih tegas
lagi, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan:
وَقَدْ
تَقَرَّرَ أَنَّ الْحَدِيثَ الضَّعِيفَ وَالْمُرْسَلَ وَالْمُنْقَطِعَ
وَالْمُعْضِلَ ، وَالْمَوْقُوفَ يُعْمَلُ بِهَا فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ
إجْمَاعًا وَلَا شَكَّ أَنَّ صَوْمَ رَجَبٍ مِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ
فَيُكْتَفَى فِيهِ بِالْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُنْكِرُ
ذَلِكَ إلَّا جَاهِلٌ مَغْرُورٌ
“Telah
menjadi ketetapan bahwa hadits dhaif, mursal, munqothi, mu`dhol dan mauquf
dapat diamalkan untuk fadhail amal sesuai dengan ijma, dan tidak
diragukan bahwa puasa Rajab termasuk dari fadhailul a`mal sehingga cukup di
dalamnya hadits-hadits yang dhaif dan semisalnya dan tidak
mengingkari hal ini kecuali orang bodoh yang tertipu...” (Fatawa
Fiqhiyah Kubra juz 3 hal 293)
Imam Izuddin Bin Abdus Salam
mengatakan mengenai mereka :
وَاَلَّذِي نَهَى عَنْ صَوْمِهِ جَاهِلٌ بِمَأْخَذِ أَحْكَامِ
الشَّرْعِ وَكَيْف يَكُونُ مُنْهَيَا عَنْهُ مَعَ أَنَّ الْعُلَمَاءَ الَّذِينَ
دَوَّنُوا الشَّرِيعَةَ لَمْ يَذْكُر أَحَدٌ مِنْهُمْ انْدِرَاجَهُ فِيمَا يُكْرَه
صَوْمُهُ بَلْ يَكُونُ صَوْمُهُ قُرْبَةً إلَى اللَّهِ تَعَالَى لِمَا جَاءَ فِي
الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ مِنْ التَّرْغِيبِ فِي الصَّوْمِ
Mereka
yang melarang puasa Rajab sesungguhnya adalah seorang yang bodoh tentang cara
pengambilan hukum-hukum syara’. Bagaimana mungkin puasa Rajab dilarang, padahal para ulama yang
membukukan syariat, tidak seorang pun dari mereka yang menyebutkan bulan Rajab
dalam bulan yang makruh dipuasai. Bahkan berpuasa Rajab termasuk qurbah (ibadah
sunnah yang dapat mendekatkan) kepada Allah, sebab telah datang hadits-hadits
shahih yang menganjurkan berpuasa .....” (Fatawa Fiqhiyah Kubra juz 3 hal 292)
Demikian pembahasan mengenai puasa Rajab, semoga kita bisa mengamalkannya. Aamiin ya robbal alamiin.
Diambil dari website Rabitah Alawiyah
Posting Komentar untuk "Keutamaan Puasa Rajab: Hadits, Fadhilah, dan Anjuran Para Ulama"