Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menghormati dan Menyikapi Ahlul Bait Yang Menyelisihi Syari'at


PERTANYAAN :

Apakah tolok ukur (batasan) dalam memuliakan Ahlul Bait dan mencintai mereka?
Jika salah seorang dari Ahlul Bait melakukan perkara bid‘ah, atau ia menjadi salah satu raja/penguasa kaum Muslimin lalu melakukan penindasan dan kezaliman terhadap rakyatnya serta ia seorang fasik, apakah ia tetap harus dimuliakan meskipun pada dirinya terdapat bid‘ah dan kefasikan? Dan bagaimana sikap kita terhadapnya?”

JAWABAN:

الحمدلله... الجواب وبالله التوفيق

Pertama:

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah telah menetapkan kewajiban memuliakan Ahlul Bait dan mencintai mereka, serta menempatkan mereka pada kedudukan khusus karena hubungan nasab mereka dengan Nabi ﷺ, di samping hak mereka sebagai sesama saudara muslim kita.

Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari berkata dalam kitab Mirqotul Mafatih :

فضل أهل البيت وذم من حاربهم أمر مجمع عليه عند علماء السنة وأكابر أئمة الأمة

Artinya:
“Keutamaan Ahlul Bait dan tercelanya orang yang memerangi mereka adalah perkara yang telah disepakati oleh para ulama Ahlus Sunnah dan para imam besar umat ini.”

Kedua:

Ucapan penanya: “Apa batasan dalam memuliakan Ahlul Bait dan mencintai mereka?”

Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh al-‘Allamah al-Manawi dalam kitabnya Faidul Qadir:

محبة الآل والأصحاب دليل على كمال الإيمان والمعرفة, والمراد: حب لا يؤدي لمحذور أو منهي عنه شرعا

Artinya:
“Mencintai keluarga Nabi dan para sahabat merupakan tanda kesempurnaan iman dan makrifat. Yang dimaksud adalah cinta yang tidak mengantarkan kepada sesuatu yang terlarang atau dilarang oleh syariat.”

Ketiga:

Ucapan penanya: “Jika ada salah seorang dari Ahlul Bait dicap sebagai pelaku bid‘ah, apakah ia tetap dimuliakan meskipun padanya ada bid‘ah dan kefasikan…?”

Jawabannya sebagaimana dikatakan oleh al-‘Allamah al-Ajuri dalam kitab al-Syari‘ah:
واجب على كل مؤمن ومؤمنة محبة أهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم…، فمن أحسن من أولادهم وذراريهم.. فقد تخلق بأخلاق سلفه الكرام الأخيار الأبرار ، ومن تخلق منهم بما لا يحسن من الأخلاق.. دعي له بالصلاح والصيانة والسلامة ، وعاشره أهل العقل والأدب بأحسن المعاشرة

Artinya:
Wajib bagi setiap mukmin dan mukminah untuk mencintai keluarga Rasulullah ﷺ… barang siapa di antara keturunan mereka berakhlak baik, maka ia sungguh telah meneladani akhlak para pendahulunya yang mulia, saleh dan lurus.
Dan siapa yang di antara mereka berakhlak buruk, maka didoakan untuknya kebaikan, penjagaan dan keselamatan. Adapun Orang yang berakal dan beradab akan bergaul dengannya dengan cara yang baik

Di antara bentuk cinta kepada Ahlul Bait adalah memberi mereka nasihat yang tulus, yaitu agar mereka memperhatikan kemuliaan nasab mereka, dan mempertanggung jawabkan kemuliaan nasab mereka.
Al-Imam al-Haddad, berkata dalam kitab al-Nasha’ih al-Diniyyah ketika menjelaskan beberapa penyakit hati:

تزكية النفس والثناء عليها، والفخر بالآباء من أهل الدين والفضل، والتبجح بالنسب، وذلك مذموم ومستقبح جداً، وقد يبتلى به بعض أولاد الأخيار ممن لا بصيرة له ولا معرفة بحقائق الدين, ومن افتخر على الناس بنفسه وبآبائه ذهبت بركتهم عنه، لأنهم ما كانوا يغترون ولا يتكبرون على الناس، ولو فعلوا ذلك لبطل فضلهم
Artinya:
merasa diri suci, memuji diri sendiri, berbangga-bangga dengan nenek moyang yang saleh, dan membanggakan nasab. Ini adalah perbuatan yang sangat tercela.
Kadang hal ini menimpa sebagian keturunan orang-orang saleh yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang agama.
Barang Siapa yang menyombongkan diri dengan nasab dan leluhurnya, hilanglah keberkahan mereka darinya, sebab para leluhurnya tidak pernah sombong. Seandainya mereka begitu, niscaya gugurlah keutamaan mereka.”

Kemudian beliau mengutip sabda Nabi ﷺ:
من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

Artinya:
“Barang siapa yang diperlambat oleh amalnya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya.”

Perbuatan menyelisihi syariat tidak dapat diterima, siapapun yang mengerjakannya dan tidak boleh diremehkan juga bagi orang yang menyelisihi syari'at. Karena Berbaik sangka kepada setiap Muslim adalah kewajiban, namun terhadap Ahlul Bait ia lebih ditekankan dan lebih kuat tuntutannya.

Keempat:

Perlu diwaspadai bahwa termasuk permusuhan halus/tersembunyi terhadap Ahlul Bait adalah bergembira ketika salah seorang dari keturunan Nabi melakukan kesalahan atau kemaksiatan, lalu menyebarkannya dengan tujuan menjatuhkan martabat mereka di mata kaum Muslimin.

Hendaklah seorang mukmin yang ingin menjaga kemurnian imana dan agamanya berhati-hati terhadap hal semacam ini. Tatkala melihat hal semacam itu, hendaklah ia bersedih, lalu mendoakan kebaikan mereka, membantu mereka dan menolong mereka semampunya agar mengikuti jalan kakek mereka yang agung, Nabi Muhammad ﷺ, sebagai firman Allah Ta‘ala dalam qur'an surah Asyuara ayat 23:

قُل لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

Artinya: 
Katakanlah (Muhammad), aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku ini, kecuali kasih sayang terhadap keluargaku.”

Dan sabda Rasulullah ﷺ:

وأحبوا اهل بيتي لحبي

Artinya:  “Cintailah Ahlul Baitku karena cinta kalian kepadaku.” (HR. at-Tirmidzi)

والله أعلم بالصواب

REFRENSI

مرقاة المفاتيح (9/3976).
 فيض القدير (1/148).
 الشريعة (5/2276).
النصائح الدينية (363).
سنن الترمذي، رقم:(3789).
Sumber: Fatawaddar.com

Posting Komentar untuk "Menghormati dan Menyikapi Ahlul Bait Yang Menyelisihi Syari'at"