Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu: Khalifah Dermawan yang Menjaga Kemurnian Al-Qur’an


Di antara para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, ada satu sosok yang namanya identik dengan kelembutan hati dan kemurahan tanpa batas, yaitu sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Ia bukan hanya seorang sahabat mulia, tetapi juga khalifah ketiga dalam sejarah Islam. Kepribadiannya lembut, ucapannya tenang, dan sikapnya penuh kasih, namun keteguhannya dalam menjaga agama tidak pernah goyah.

Banyak orang mengenal sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai sahabat Nabi yang sangat kaya. Namun tidak semua tahu bahwa kekayaannya tidak menjadikannya sombong, melainkan justru menjadikannya hamba Allah yang paling dermawan.

Artikel ini akan mengajak Anda mengenal lebih dalam kehidupan sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu: sejak sebelum Islam, masa masuk Islam, pengorbanan besar, hingga jasanya dalam menjaga Al-Qur’an.


Utsman Sebelum Islam: Pedagang Jujur dan Terhormat

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berasal dari keluarga terpandang Quraisy, Bani Umayyah. Ia dikenal sebagai pedagang sukses, berharta melimpah, berakhlak halus, dan sangat menjaga kehormatan diri.

Bahkan sebelum Islam, masyarakat Mekah telah mengakui bahwa sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu:
  • Tidak pernah minum khamr
  • Tidak menyembah berhala
  • Tidak melakukan perbuatan tercela
  • Dikenal pemalu dan santun
Ia adalah contoh bahwa kemuliaan hidup tidak menunggu iman datang — tetapi iman akan menyempurnakan kemuliaan.

Masuk Islam Lewat Dakwah Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu masuk Islam melalui ajakan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Begitu mendengar dakwah tentang tauhid, akalnya menerima, hatinya membenarkan, dan jiwanya tunduk.
Tanpa ragu, ia mengucap dua kalimat syahadat.

Namun keimanan itu dibayar mahal. Paman sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengikatnya dan mengancam agar ia kembali pada agama Quraisy. Namun ia memilih iman walau harus kehilangan kenyamanan.

Di sinilah dunia mulai ditinggalkan, dan akhirat mulai dipilih.

Hijrah Dua Kali demi Agama

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang hijrah dua kali:
  • Ke Habasyah
  • Ke Madinah
Ia menunjukkan bahwa iman bukan sekedar keyakinan hati, tetapi kesiapan meninggalkan zona nyaman demi kebenaran.

Menikahi Dua Putri Rasulullah

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mendapat kemuliaan yang tidak didapat sahabat lain: ia menikah dengan dua putri Rasulullah ﷺ.

Pertama dengan:

Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dan setelah beliau wafat, sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menikah dengan: Sayyidah Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha

Karena itu, beliau mendapat gelar: Dzun Nurain – pemilik dua cahaya.


Dermawan yang Menghidupi Umat

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai manusia paling ringan tangannya dalam bersedekah.

Saat Madinah kekurangan air, satu-satunya sumur dimiliki oleh Yahudi. Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu membeli sumur itu dengan harga mahal dan mewakafkannya untuk seluruh umat Islam.

Dalam Perang Tabuk, sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menyumbang:

300 unta
1.000 dinar emas

Rasulullah ﷺ sampai bersabda:
“Tidak ada lagi yang membahayakan Utsman setelah hari ini.”

Karena seluruh hartanya telah ia serahkan untuk Allah.

Menjadi Khalifah Ketiga

Setelah wafatnya sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, umat Islam memilih sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah ketiga.

Ia memimpin dengan:
  • kelembutan
  • kesabaran
  • keteladanan akhlak
  • ketulusan niat
Namun justru sifat lembut itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin memecah belah umat.

Jasa Terbesar: Menyatukan Mushaf Al-Qur’an

Di masa sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Islam telah meluas ke berbagai negeri.

Masing-masing daerah membaca Al-Qur’an dengan dialek berbeda. Jika dibiarkan, perpecahan bisa terjadi.

Dengan penuh kehati-hatian, sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu:

Mengumpulkan mushaf resmi

Menyalin standar bacaan Al-Qur’an

Mengirim mushaf ke berbagai wilayah


Tanpa tindakan beliau, mungkin hari ini kita tidak memiliki Al-Qur’an yang seragam.

Pengorbanannya bukan dengan pedang, tetapi dengan penjagaan wahyu.

Fitnah Besar dan Kesabaran Luar Biasa

Menjelang akhir hayat, fitnah menimpa sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
Rumah beliau dikepung, ia difitnah zalim, padahal hatinya bersih.
Ia bisa memerintahkan perang, tapi memilih bersabar.

Ia berkata:

"Aku tidak ingin tetesan darah menjadi sebab perpecahan umat Muhammad."

Ia tidak mempertahankan jabatan, tapi menjaga persatuan.

Wafatnya Sang Penjaga Mushaf

Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu wafat saat membaca Al-Qur’an. Darahnya menetes di mushaf.

Ia mati dalam ketaatan, dan hidup dalam kemuliaan.

Sungguh indah: Hidupnya untuk Al-Qur’an, wafatnya pun di atas Al-Qur’an.

Pelajaran dari Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu

✅ Harta yang disedekahkan tidak akan berkurang
✅ Lembut tidak berarti lemah
✅ Menjaga persatuan lebih berat dari membalas kezaliman
✅ Orang baik sering menjadi korban fitnah
✅ Berakhlak baik adalah kekuatan sejati


Renungan Pribadi

Membaca kisah sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu membuat hati kita bergetar. Betapa mudah kita mengeluh atas sedikit kehilangan, sementara beliau kehilangan segalanya demi Allah.
Kita sering ingin dihargai manusia, tapi lupa bahwa kemuliaan sejati adalah saat Allah ridha.

Refleksi untuk Kita

Jika sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang dijamin surga masih takut fitnah, bagaimana dengan kita?
Jika beliau mengorbankan dunia demi Al-Qur’an, sudahkah kita mengorbankan waktu untuk membacanya?
Mari belajar: Banyak memberi, sedikit menuntut. Banyak sabar, sedikit mengeluh. Banyak tunduk, sedikit merasa benar.

Posting Komentar untuk "Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu: Khalifah Dermawan yang Menjaga Kemurnian Al-Qur’an"